Saturday, December 20, 2014

Perubahan Itu Akan Selalu Ada

Kalau ngomongin soal jodoh emang gak pernah habis rasanya.

Tadi ceritanya habis met up (lagi) sama si Adella.
Waktu kita untuk ketemuan emang biasanya cuma disaat-saat genting aja.
Jadi ya... ada yang diobrolin gitu. Nah, kalau obrolin tadi adalah lanjutan prolog yang di atas itu.

Jodoh.

Susah emang kalau ngomongin jodoh.
Ga ada habisnya.

Bahkan orientasi pembicaraan kita pun bukan "Ah, pengen punya pacar.."

Bukan.

Kini kata-kata itu berubah jadi, "Ah, pengen punya calon imam.."

Jadi inget, beberapa hari yang lalu gue, Maryam dan Fidah sedang berkumpul di perpustakaan. Ga tau kenapa dari yang tadinya lagi ngomongin jurusan, malah belok ngomongin 'calon suami'.
Ga disangka-sangka, temen gue yang jalannya bisa dikalahkan kecepatan seekor siput (baca : Fidah), ternyata menyimpan hasrat terpendam kalau dia pengen cepet-cepet punya 'teman hidup' yang bisa 'mengayomi'.

Bahasa gampangnya sih suami.

Terus, kalau saya sendiri gimana?

Ah.... biarlah nanti waktu yang menjawab.

Satu hal yang gue curahkan lagi tadi ke si Adella adalah tentang perubahan. Semenjak kuliah... gue merasa... berada di ambang. Antara sifat gue yang rasanya masih sama dari sma, sama perasaan bahwa banyak hal dalam diri gue yang berubah. 

Contohnya, gue merasa tidak lucu lagi.



Engga, bukan wajah. Kalau wajah sih alhamdulillah taraf lucunya immortal.
Maksudnya adalah....apa ya, selera humor? 
Iya gue tau selera humor gue emang udah rendah dari dulu. Tapi ini... beda. Apa yang dulu gue anggap lucu ketika sma, entah kenapa sekarang gue rasakan udah gak selucu itu lagi. Dan gue bertanya-tanya, ini hal yang bagus apa engga ya?

Dunia perkuliahan memang menuntut kita untuk berubah. Banyak.
Tinggal kitanya aja yang berusaha menyesuaikan perubahan itu dengan kepribadian kita.
Sampai waktu itu ketika gue bertemu sama temen-temen gue sma (Sari, Dian dan Tessa), Sari sampai bilang, "Ndi... sekarang lo lebih pendiem. Ini.. ga tau gue doang yang merasa, tapi lo.. kayak ga seneng... ketemu... kita."

Ya, temen gue sampai bilang begitu.

Well, waktu itu mungkin karena ada pengaruh kegiatan juga kali ya di fakultas. Emang lagi masa-masa sibuknya. Pokoknya capek banget, hampir setiap hari gue pulang malem. Disitu gue langsung ngerasa ga enak. Sumpah, kalau gue harus jawab lagi pertanyaan Sari sekarang, gue seneng kok ketemu kalian. Ga bohong.

Cuma... gimana ya, gue pun ngerasa beda.

Rasanya kayak ada yang off.

/sigh/


Ini mungkin nanti temen-temen gue yang baca akan merasa bingung dengan post gue yang gak biasanya seperti ini. 

Ini pun termasuk perubahan yang gue bicarakan dengan Adella tadi.
Gue bukannya mau sok serius atau sok bijak atau gimana. Gue cuma ngerasa.... kepribadian seperti inilah memang yang cocok dengan keadaan sekarang ini.

Tapi, disaat yang bersamaan gue pun masih orang yang sama. Masih jadi Andi yang suka ha ha hi hi ga tau tempat dan keadaan kalau udah bareng temen. Yang masih suka dibilang gila, ga jelas atau pervert (iya saudara-saudara, per-vert).

Intinya... perubahan itu akan selalu ada.
Mau anda dulunya se-childish apapun, lama-kelamaan pasti akan muncul satu dua hal yang berubah dalam diri anda.

Nasi sudah menjadi bubur.
Tinggal bagaimana anda membuat bubur yang enak.


0 Words from....:

Post a Comment